Pada Jumat, 26 April 2024 telah dilakukan konsultasi terkait riset Indeks Biodiversitas Indonesia (IBI) dengan Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) bersama para pakar biodiversitas. Pertemuan ini berlangsung secara hybrid (daring dan luring di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta) yang dihadiri oleh beberapa tim riset, pakar biodiversitas, komite IBI-KOBI, dan lembaga pemerintah. Konsultasi ini bertujuan untuk mendiskusikan hasil yang telah ditemukan oleh tim riset IBI-KOBI.
Diskusi diawali dengan pembukaan dari Ketua KOBI sekaligus salah satu tim riset IBI, Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. yang menyampaikan pada pembukaannya, bahwa Indonesia merupakan negara dengan megabiodiversitas yang disamping itu ternyata terdapat tantangan ancaman kepunahan yang semakin nyata. Oleh karena itu, IBI-KOBI menginisiasi pendataan biodiversitas Indonesia sehingga nantinya dapat menjadi sebuah acuan atau pedoman bagi kegiatan keanekaragaman hayati, serta usulan bagi pemerintah dalam kebijakan perencanaan pembangunan yang berkelanjutan berdasarkan pelestarian sumber daya alam Indonesia. Saat ini IBI-KOBI berhasil mengumpulkan lebih dari 11.000 data keanekaragaman hayati dimana pendataan ini juga melibatkan mahasiswa dari berbagai universitas. Akurasi data keanekaragaman hayati sudah dilakukan dari tahun 1975 hingga 2023. Data yang diperoleh telah dianalisis secara statistik dan spasial sehingga didapatkan indeks dan tren berdasarkan bioma (terrestrial, marine, fresh water), serta tren kelompok taksa (aves, insects, reptilia dan amfibia, pisces, dan mamalia).
Pemaparan dilanjutkan oleh Barano Siswa Sulistyawan, M.Si., Ph.D., salah satu tim riset IBI-KOBI yang menyampaikan hasil riset indeks biodiversitas di Indonesia meliputi nilai penting kurator data hayati, metode perolehan dan pengolahan data, serta metode analisis. Pada pemaparannya beliau menekankan bahwa data yang dipaparkan belum final, namun perlu disampaikan karena sebagai bahan masukkan dan perbaikkan dari yang telah dikerjakan. Beliau juga menjelaskan terkait tren spesies berdasarkan bioma dan beberapa taksa.
“Tren pada setiap bioma memiliki pola yang berbeda-beda. Pada bioma terrestrial, tren spesies dari waktu ke waktu cenderung turun hal ini dikarenakan disturbansi yang begitu tinggi. Kemudian, ada perbedaan pada bioma marine yang trennya cenderung tinggi, meskipun tetap ada disturbansi, namun proses recovery dapat berjalan dengan baik sehingga ditemukan lebih banyak spesies pada bioma ini. Sedangkan pada fresh water, trennya justru naik padahal ancaman dari polusi air juga cukup tinggi pada beberapa lokasi. Hal ini mungkin dikarenakan data diambil dari lokasi dimana disturbansi yang tidak terlalu signifikan. Kemudian, tren berdasarkan kelompok taksa seperti ikan, aves, invertebrata yang turun, sedangkan mamalia dan reptil terlihat naik,” ujarnya.
Pemaparan ini ditanggapi terlebih dahulu oleh lembaga pemerintah yang hadir, diantaranya Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDMKP), Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Badan Pusat Statistik Indonesia (BPS). Tanggapan positif disampaikan oleh semua lembaga yang hadir, namun terdapat beberapa masukan yang dapat digunakan untuk memperbaiki hasil indeks biodiversitas Indonesia. Menurut Dr. Susianto, perwakilan dari BPS, menyampaikan bahwa perlu diperjelas terkait metode koreksi geografis yang dilakukan dan juga klasifikasi tipologi yang dapat mengacu pada standar internasional yaitu kerangka Ecosystem Accounting sehingga indeks biodiversitas Indonesia dapat dibandingkan dengan negara-negara lain.
Pada sesi kedua, pemaparan juga ditanggapi oleh beberapa pakar biodiversitas. Ada perwakilan dari kelompok taksa aves dihadiri oleh Prof. Dr. Margareta Rahayuningsih, M.Si., dari kelompok insekta dihadiri oleh Dr. Sukirno, dari kelompok reptilia dan amfibia dihadiri oleh Donan Satria Yudha, M.Sc., dari kelompok ikan dihadiri oleh Dr. Tedjo Sukmono, serta perwakilan dari kelompok mamalia yang dihadiri oleh Dr. Dwi Sendi.
Tanggapan menarik dari Dr. Sukirno, yang menyatakan bahwa perlunya nilai kurasi data (nilai kerentanan suatu spesies), sumber kurasi data dan validator, serta pentingnya pendataan status spesies (asal spesies, spesies baru, telah terecord) sehingga data yang sudah ada tidak terjadi overlap pada tahun berikutnya. Tanggapan yang sama juga disampaikan oleh Donan Satria Yudha, M.Sc., bahwa perlu kolaborasi dengan lembaga pemerintah seperti Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) sebagai validator sehingga data yang dihasilkan tidak berbeda dengan apa yang ada di lapangan.
Berbeda dengan tanggapan pakar lainnya, Dr. Tedjo Sukmono memberi beberapa masukan terhadap user interface indeks biodiversitas Indonesia, bahwa perlu dilakukan perbaikan seperti pendataan spesies yang dibuat secara kuartal atau zonasi pada beberapa tahun sekali, penambahan list spesies, serta indeks yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat yang membutuhkan data ini untuk tujuan penelitian.
Dari hasil diskusi, Tim riset IBI, Barano Siswa Sulistyawan, Ph.D. menanggapi masukkan secara positif dan terbuka, serta memperjelas terkait sumber data dan metode analisis yang sudah digunakan.
“Data yang digunakan adalah data dari hasil publikasi (1975-2023) yang kemudian dikurasi oleh mahasiswa-mahasiswa. Kemudian, untuk analisis data, kami juga sudah mengikuti standar internasional, namun mungkin perlu juga konsultasi dengan BIG terkait analisis spasial sehingga harapannya dapat dipublikasi sebagai acuan bagi akademisi,” ujarnya.
Selain itu, Barano Siswa Sulistyawan, Ph.D. juga menanggapi hasil diskusi dengan para pakar bahwa pengelompokan spesies sudah dipertimbangkan sesuai pakar taksa, status spesies juga sudah didata namun sifatnya masih tabulasi, dan proses updating database akan terus dilakukan secara berkala, serta terkait akses database yang belum dapat dibuka secara umum karena masih dalam tahap penyempurnaan.
Upaya dalam balancing dan penyempurnaan terus dilakukan oleh IBI-KOBI sehingga nantinya dapat memberikan gambaran luas tentang keanekaragaman hayati Indonesia. Lebih lanjut, dari hasil riset ini dapat mendukung tercapainya tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 13, 14 dan 15.